Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan

Hati Samudra

Hati Samudra
(Yohanes M Wain)

Ketika itu senja, mata berpaling dari bayang, meraba dan mencari, namun yang kutemukan hanyalah maya. Ketika itu tak seperti biasanya ku terpana dalam hening dan bisu, senja saat itu binar mata kita beradu...Mencoba mencari dan mengakhir, namun haruskah berakhir...?!

Ku lukis erat raut dan rupa yang menyapa, untuk ku kenang...
Ku peluk erat mimpi yang sering mengganggu, hingga ku harus merintih dan mencoba mengakhiri ini dari hati ku...

Tak begitu mudah seperti langkah mu, melepas semua mimpi dan hilang karena kau terbiasa. Aku tak terbiasa berpaling hingga kau melangkah pergi dan aku tersesat.

Musim kini telah berganti, mengubah semua warna hingga ku menjerit karna aku tak berubah !!?
ku sesali bayang yang selalu hadir dalam mimpi, hingga ku bisu,- tak ingin mendengar lagi hingga ku tuli.

Tak semudah yang terselib dibibir, kadang senyum datang namun ku tak tahu untuk apa
Biarkan saja ku gilai dunia, hingga dunia menggilai ku
ku anggap wajar bayang yang kini dan selalu datang dalam kalbu,-
karena hanya akulah yang tahu siapa pemilik hati samudra.

Siti Julaiha ‘ kau tak seperti yang kemarin ‘


Siti Julaiha ‘ kau tak seperti yang kemarin ‘
( yohanes m wain )

# Begitulah perjalan ini, ucap ku membelai wajah halusnya lembut.
Kembang itu ku petik saat kemarin di atas bukit.
Masih hijau dan lugu. Di sekujur tubuhnya harum kesegaran dunia ku dapatkan
Satu tetes embun masih melingkar di pangkal tangkai, ku tahan biar tak bias hilang dan raib seperti kemarin

Malam ini tak seterik siang, kehangatan membungkus rapat dalam rajutan nada baru tercipta. Getaran yang sama ku rasakan dulu, hidup kembali.

Sayang pelukan semakin erat di lingkaran syadu malam yang membuai
Ku akui cinta mu besar disana, ku imbangi ini dengan hati merintih menangis tertahan, semoga kelak selalu bersama.

Ku lihat dari barisan gundukan ranum, nafas mu tertahan, mata membelalak menatap ku tak percaya dan memeluk ku erat, bisik mu “ jangan tinggalkan aku “
Sayang percayalah pada hati mu saja, cinta ini takan terganti, biarkan nafas kita menyatu, biarkan jiwa kita saling mengikat. Janji ini bukan hanya sekedar manis di bibir ku saja, kau pun semakin mengila, di antara erangan panjang bergema di sudut malam. Dan kita terkulai

# Siti Julaiha nama mu menggairahkan hidup. Aku terbangun dari dingin yang menusuk ku. Kemana diri mu? Mata mencari hingga senyum merekah di bibir.

Ku lihat di meja secangkir kopi hitam menyambut pagi ku.
“ Sayang aku tinggalakn diri mu sebentar saja, aku akan kembali secepatnya “
Pesan singkat mu itu ku kecup lembut dalam hati. Menjaga ini agar tak hilang di telan waktu.

Lamunan ku kusandarkan jauh mencari jiwa mu, ku temukan dan rebahkan. Kau berbeda dari yang lalu, kau tak acuhkan diri ini saat mata tertutup rapat. Kau jaga rasa ini saat hati jauh tak menggenggam erat. Kau tinggikan diri ku saat yang lain menganggap ku rendah. Sayang kau berbeda dengan yang lalu.

# Baru sebentar kau menghilang dari pandangan, namun rindu memanggil mu pulang. Ku kecup ranum bibir mu merekah saat kau hadir kembali dalam hidup. Siti Julaiha nama mu kini ku bisikan di setiap hembusan nafas ku.

Alangkah indah dunia ini, ada saatnya berkabut, ada saatnya mendung, ada saatnya badai dan semunya pasti berlalu.

Ku biarkan saja diri mu memeluk ku erat janji terucap disana, dan aku…aku sejujurnya tak mengharapkan janji. Karena ku tahu tak ada culas di mata mu. Aku mempercayai mu, aku mempercayai mu hingga bilur luka lama menghilang. Aku mempercayai dari saat pertama mata ini memandang mu. Kau yang ku mau..kau akan menjadikan aku Raja mu, dan aku akan menjadikan mu Ratu.

Tak seperti kemarin, hanya nafsu melingkar di hasratnya..hanya janji dan erang binal kosong yang ku dapatkan..hampa dan membeku.

Ini yang terakhir kalinya ' Dengarkanlah '


Ini yang terakhir kalinya ' Dengarkanlah '
( yohanes m wain )

Kau anggap dirimu Terang namun kau lupa akulah Bintang
akulah nyawa hidup dalam raga mu

Dengarkanlah !!
ini seperti kemarin yang ku katakan pada mu
dan
ku ulangi lagi !

Akulah Bintang
pembawa sinar dan kehancuran

gelisa raga ku, menanti duka
gelisa raga ku, menanti derita

jangan kau agungkan diri mu di atas derita ku
karna aku pembawa murka

jangan pula kau menatap ku dengan hina
karna aku penghancur seribu bintang yang benderang

jangan kau tangisi itu sayang
jangan kau berduka biar ku mengibah

akulah terang 
pembawa sial dan kebencian
atas diri mu

Setengah Tiang Di Ribuan Kilo LangkahKu

puisi, puisi perjuangan, Setengah Tiang Di Ribuan Kilo Langkahku
Setengah Tiang Di Ribuan Kilo LangkahKu
( yohanes m wain )

Kiranya langit tak tertata, dan bumi di hujat. Akar - akar serabut kapuk kering dan mati.
Kiranya dunia berduka, Nusantara tak harmonis. Ribuan langkah telah terlalui nampak keringat mengering jadi daki. Coba lihat di balik dinding emas itu, asap mengepul suara tawa terdengar riuh, terlihat di kursi pemimpin, pria berperut buncit menyeka keringat, di simpannya tanda bukti lelah di sapu tangan sutra putihnya. INI HASIL KERJA KITA, sambil menunjukan sapu tangannya dan tersenyum bangga.

Kejam, alam tak lagi perkenankan BENAR menjadi saksi, tapi KUAT menjadi pemenang. Yang jelata di jadikan tumbal saja. " Mereka kita hibur dengan dongeng KEBAYAN berilah mereka mimpi indah " celetuk sang ketua dari balik dinding emas.

Ribuan kilo kembali terlewati, ada tangis dan air mata menumpuk di dedak tahun kemarin," Tuhan kenapa tega berikan cobaan ini? ", " apa salah jika aku mengaduh? jika adil adalah diri Mu berilah sedikit yang Kau punya. Rintihan dan tangisan mengema sampai ke ujung landang tandus, terhalang tembok putih tinggi. Dari balik tembok berdiri pongah sang tuan tanah menyemburkan asap cerutu dari bibir hitam kelam. " Ahh kasian rakyat ku " sembari melemparkan sebungkus nasi basi bekas hajatan kemarin.

Kejam, dunia adalah neraka jelata, nenek moyang dari tahun ke tahun tetap tunduk dan tertindas bahkan sebagian menjilat jilat seperti anjing kepada tuannya. Kedudukan mengubah harga diri, uang membayar semuanya.

Kembali menelusuri jalan dengan penat, Ribuan kilo kaki melangkah hingga jatuh bermandikan debu.

Ku lihat disekitar ku tulang belulang berserakan, jagal sana, jagal sini. Mulut beringas namun mengucap doa, darah mengalir dari pedang. " tempat apa ini " tanya ku dalam bisu.

Rera Wulan Tanah Ekan

Rera Wulan Tanah Ekan
( yohanes m wain )

Tanah leluhur, tanah bersimbah darah, merah berapi menyala. Tanah leluhur, tanah linangan air mata, jatuh mengguyur perih, basah bau tanah menyengat seperti bangkai.

Kapan, dimana kaki melangkah, pergi menjauh namun hati ku letakan di sana, Kota Reinha ku habiskan waktu kecil ku riang berteman debur ombak liar dan batu karang.

Kembali bersimpuh dalam doa, Rera Wulan Tanah Ekan, diatas langit ku tinggikan Dikau, di dasar bumi ku memuliakan Dikau. Beri aku nafas baru.

Rera Wulan Tanah Ekan jika malam tak lagi kelam, Jika mentari tak lagi menyengat. Alam ini lain, tak seperti kemarin. Apa ini ? Seperti apa hukuman dunia, langit ku junjung namun kaki berdarah darah. Kau buang segala  hasrat manusia dulu, ego ku tinggalkan semata bunga ku petik di tanah orang. Dimana letak kuasa Mu, aku menghentakkan kaki bukan menantang, namun terlalu sakit kau tinggalkan jauh. 
Kenapa Kau tinggikan hina, kenapa kau tinggikan yang culas,mulut mereka manis namun itu hanya di bibir saja.? apakah aku juga harus melakukan yang sama.? apa aku harus membeli Mu.? ahhhhh mereka tak sama seperti diri ku, mereka tak sepadan dengan ku, aku tak seburuk itu, ya sudalah takan ku nilai hidup dengan uang, takan ku gadaikan diri demi harta.

Kembali hanyut dalam lingkaran sepi yang kian menggerogoti hati. Musim ini tak seindah kemarin. Musim ini terlalu pekat, terlalu hitam. 

Mencoba menghapus kabut, dan aku lihat jalan itu ada depan mata, menyambut ku. Apakah itu jawaban atas doa ku,- Rera Wulan Tanah Ekan di dasar hati ku berlutut menyembah Dikau.

Jedah Hati


Jedah Hati
( yohanes m wain )

Aku berada di ruangan dengan empat sisi, semuanya tersambung dan menyatu, tak ada celah sedikitpun disana, tak ada semilir angin ataupun cahaya mentari yang menghangatkan.
Disana aku beku, tak bisa berbuat banyak. Terdengar sekilas suara - suara mengejek dari sudut empat penjuru ruangan itu, terkadang mereka tertawa. Namun sayang aku tak dapat melihat, semuanya hitam pekat. Ada pertanyaan yang muncul di benak ini, apakah aku sendiri di ruangan ini?

Diruangan ini aku belajar banyak, ada sedikit ketakutan yang merasuk, namun ku bisa atasi itu. Awalnya aku kecewa pada dunia, kenapa aku sepertinya di kurung di tempat ini? sejak malam pertama waktu itu aku menangis sendiri, sebisa mungkin aku berteriak mengaduh, namun tak ada yang mendengarkannya.
Sudah pernah juga aku berontak, membabi buta namun ruangan ini begitu kokoh aku tak bisa membongkarnya sendirian.

Aku hanya bisa diam dan merenung, melihat kembali yang lalu begitu indah? huft sedikit senyum menghiasi bibir kecut ku. Ku biasakan diri ku kini dengan suasana ini, suasana hening dan tenang . Ku mulai membiasakan mata ini dalam gelap. Meraba - raba arah mungkin ada jalan untuk keluar.

Ini perhentian yang sangat melelahkan untuk ku. Namun ku nikmati ini sebagai pembelajaran ku kelak. Ku nikmati semua rasa sakit ini sendiri, kunikmati rasa dingin yang membekukan ini sendiri. Belajar dan terus belajar memahami ruang.

Sudah dua bulan lamanya aku di ruangan ini. Hati ku tak seperti kemarin. Ku relakan semuanya pergi dari hidup ku. Dan hasrat ku berhenti disini ' jedah hati '

Nona Manis Mu Habis Ku Kecap


Nona Manis Mu Habis Ku Kecap
( yohanes m wain )


Kesepian ini sepertinya melebihi malam, heningnya melebihi bisu, sepintas arakan awan menutupi rembulan, angin datang membuai, halus lembut dan ku terkulai.

Kembali Membuka kisah lalu, walau berdarah darah, hati ku kecut dan perih biarkan kenangan ini menjadi sejati.

Nona, sapa ku pelan kala itu, saat getaran jiwa kita masih sama, saat getaran hati kita masih senada. Saat pelangi menghiasi langit dan kitalah pelukisnya

Nona, ingat kah saat lalu saat tangan ini menggengam erat diri mu, saat tangan ini memeluk erat diri mu, saat nafas kita masih manari bersama, saat dimana peluh dan keringan kita menjadi satu ? Ingatkah diri mu saat ku kecup lembut kening mu ? saat dimana kita harus berpisah arah tanda rindu dan hati ini akan tetap bersama ?

Sudah tujuh tahun lamanya kita merintih, menangis dan tertawa bersama, sudah tujuh tahun lamanya itu berlalu, semua kenangan masih tersusun rapih di memori ini

Awalnya cinta itu tumbuh dan bersemi begitu saja, dari pandangan pertama ku curi hati mu yang lugu. Larantuka dari sanalah awal kita memaduh hasrat menjadi napsu, membendung nafsu menjadi rindu, itulah cinta yang bergelora dimana langit dan bumipun tak mampu membendung langkah kita.

Kisah kita berlanjut di pulau dimana kita harus berpisah sejenak, aku membiarkan diri mu disana bertemankan sepi seperti diri ku disini, namun rindu dan cinta ini tak menghilang.

Janji akan bertemu kembalipun kita bicarakan, Nona saat kita pertama kembali berjumpa ku ingat diri mu menunggu sendiri disana, dan aku masih terlelap dalam mimpi ( maafkan aku atas saat itu )

Malam itu dimana saat untuk pertama kalinya kita bersama, malam dimana saat untuk pertama kalinya diri mu terlelap dalam peluk ku. Nona, ingatkah kau akan saat itu ?

Saat dimana kuraih bibir mu lembut, saat dimana jiwa dan raga kita menyatu menjadi satu, saat itu ku petik lembut sari mu dan diri mu mengecup lembut bibir ku, kita berkeringat keras, dan terlelap. Terlelap hingga pagi membangungkan kita dengan senyum dan cinta.

Tujuh tahun lamanya kita jalin cinta kita, tujuh tahun lamanya kita bersama. Kadang pertengkaran menemani kita, kadang amarah menghampiri kita namun cinta ini tak berubah.

Hingga dia yang lain hadir dalam hidup mu, menghapus semua kenangan itu, menghapus semua cinta kita. Dan aku mencoba menarik mu kembali namun ku kalah, aku tak sekuat dulu lagi, terlalu rapuh dan cengeng

Gengaman tangan ini seketika lepas dan terurai. Mata dan hati berkaca kaca seakan tak percaya ini nyata.

Nona tujuh tahun lamanya kisah ini akhirnya berakhir dengan tak sempurna, tujuh tahun lamanya akhirnya kisah ini usai dengan linangan air mata

Ku biarkan diri mu pergi bersama yang lain, ku biarkan tubuh yang dulu milik ku itu di dekap yang lain. Bukan karena ku merelakan, sudah ku coba meraih mu kembali namun sayang hati mu memutuskan untuk pergi dan menenggelamkan ku disini, sendiri terpuruk dan sepih

Entalah semuanya seakan sia – sia aku dan diri mu harus berakhir dan tak ku ketahui apa penyebabnya, biarlah sudah, biarkan sudah. Ku melihat senyum mu di sana bersama yang lain, kudengar tawa mu disana dengan yang lain dan aku…? Aku masih seperi kemarin memikirkan kenapa semua ini terjadi, seakan taknyata namun nyata

Nona manis mu habis ku kecap, namun sayang cinta mu tak bisa ku miliki, biarkan sudah semuanya berakhir, ku nikmati senyum mu saat diri mu bersama dia, dengan linangan air mata, hati ku perih disini..Nona aku merindukan mu.